Amanah yang Hampir Selesai

Apa yang ada dipikiran seseorang bila mendengar kata “pengajar”, baik itu guru, dosen, asisten, atau yang lainnya??? Setelah semester genap berjalan sekian bulan, tak terasa sebentar lagi UAS. Sekian bulan itu pula tanpa terasa asistensi ekonomi umum dan asistensi dasar pengolahan data hanya tinggal satu pertemuan lagi..ugh…akhirnya… Sebenarnya kesibukan ini sangat menyenangkan, saya dapat berinteraksi dengan banyak orang dan menyampaikan sedikit ilmu yang saya miliki, walau tak jarang ada praktikan ekonomi yang protes dan ingin tidak diadakan kuis atau ingin ada jam tambahan, yah keinginan mereka beragam, tetapi apapun itu saya harus tetap memberikan kuis pada mereka atau jam tambahan bila diperlukan, karena itu suatu amanah yang harus saya jalani. Jadi ingat semasa sekolah, dulu kalau guru tidak masuk rasanya senang sekali karena itu berarti jam kosong tak peduli guru sedang tak enak badan atau ada kepentingan lain, tetapi setelah merasakan menjadi seorang pengajar, baru terasa betapa beratnya memikul amanah ini, apapun yang terjadi ini adalah tanggung jawab yang tidak mudah. Apa perasaan seorang yang sedang berbicara namun ada beberapa yang tidak mendengarkan, mengobrol, atau perilaku lain yang bisa membuat sebeeel banget?! Apa perasaan seorang yang sedang berbicara diperhatikan orang lain dan terlihat semangat mereka untuk tahu lebih banyak?! Semua perasaan itu pernah saya rasakan setelah setahun ini (semester ganjil dan genap) menjadi asisten kelas beberapa mata kuliah, dan hal itu dapat menjadi pembelajaran bagi saya. So…intinya hargailah orang lain jika ingin dihargai oleh orang lain :) Oh iya sekarang saya lebih bisa mendengar pendapat orang lain, dan mengambil sisi positif dari sebuah kritikan :)

& Komentar »

  1. [...] Tambahan : Artikel yang semisal ini KLIK di SINI. [...]

  2. Assalamualaikum warahmatullohi wabaraktuh

    Setelah semester genap berjalan sekian bulan, tak terasa sebentar lagi UAS.

    Selamat UAS AJA

    So…intinya hargailah orang lain jika ingin dihargai oleh orang lain :) Oh iya sekarang saya lebih bisa mendengar pendapat orang lain, dan mengambil sisi positif dari sebuah kritikan

    Dan juga bersabar (Ini saya kutip sebuah tulisan dari http://www.mediamuslim.info , semoga aja ada manfaatnya bagi kita)

    Sabar, sabar dan sabar ……………!!!
    Siapa yang tidak pernah mendengar kata ini?
    Berulang-ulang orang menyebutnya. Mudah diucapkan namun berat diamalkan.

    Perkataan dan perintah sabar sangat gampang ditemukan di dalam Al-Qur’an. Salah satu contohnya yang ada di dalam surat Al Ashr. Allah di surat ini memberikan pujian khusus bagi mereka yang mau memberikan nasehat kepada kesabaran. Ayat tersebut adalah: “Demi masa. Sesungguhnya setiap manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, dan saling nasehat menasehati di dalam kebenaran dan kesabaran.”

    Sebagian besar orang, memahami bahwa yang namanya sabar itu terkait dengan musibah yang menimpa. Sehingga kalau ada mereka yang mendapatkan saudaranya meninggal maka tetangganya pun menasehatinya dengan “sabar”. Tak salah apa yang diucapkan. Namun ternyata, kesabaran tak hanya sebatas ketika ditimpa musibah saja. Ada kesabaran lain yang tak kalah pentingnya, yaitu:

    *
    Sabar di dalam menjalankan ketaatan kepada Allah. Menjalankan ketaatan kepada Allah bukanlah hal yang ringan. Sangat banyak orang yang paham dengan kebaikan dan ketaatan namun tidak juga mau mengamalkan. Terlebih lagi, menjalankan ketaatan itu ada penghalangnya. Siapakah penghalangnya? Jawabannya, banyak penghalang kita menjalankan ketaatan. Yang pertama adalah jiwa manusia itu sendiri. Jiwa manusia terkadang memerintahkan anggota tubuhnya untuk malas berbuat ketaatan. Yang kedua adalah syetan. Syetan paling tidak suka dengan mereka yang menjalankan ketaatan. Ini persis dengan yang disemboyan nenek moyangnya, yaitu iblis semenjak diusir Allah dari surga. Ia dan anak cucunya berupaya untuk menghalangi manusia dari kebaikan dengan berbagai cara. Tak heranlah bagi para muslimah sangat berat untuk menjalankan ketaatan. Memakai jilbab misalnya. Sangat berat, karena memang syetan terus menarik dan mencegah agar muslimah tidak memakainya. Syetan ini ada macamnya juga. Bisa berasal dari manusia maupun dari bangsa jin. Syetan dari bangsa manusia ini berupaya dengan keras agar kebaikan tidak tersebar luas. Makanya mereka berupaya memadamkan cahaya Allah. Contoh gampangnya, orang yang mau menjalankan syariat Allah dengan benar mereka musuhi dan perangi. Jahat lagi, mereka menyebarkan berita palsu bahwa orang yang menjalankan syariat islam identik dengan teroris. Menghadapi musuh-musuh ketaatan yang betebaran ini butuh dengan kesabaran yang ekstra.
    *
    Sabar dalam meninggalkan perbuatan kemaksiatan. Perbuatan kemaksiatan memang tampak bagus dan indah. Apalagi syetan menghiasi kemungkaran itu dengan hiasan yang luar biasa. Akibatnya? Manusia berbondong-bondong melakukan kemungkaran alias kemaksiatan. Hari ini membuktikan bahwa kemungkaran menjadi sesuatu yang dominan di muka bumi. Orang tak malu lagi berbuat kejelekan di sembarang tempat. Contoh realnya, betapa banyaknya saudara muslimah yang berpakaian minim ala barat. Menampilkan aurat kepada laki-laki yang bukan suaminya. Terus betapa maraknya perjudian di setiap tempat, di sudut kota dan jalanan. Tak ada rasa malu dan merasa bersalah. Kemaksiatan yang lain masih sangat banyak untuk diungkapkan. Lingkungan yang bertebaran dengan maksiat tadi terkadang mempengaruhi kepribadian seorang muslim atawa muslimah. Hingga akhirnya terbawa-bawa tanpa terasa. Maka, bersabar dalam meninggalkan kemaksiatan harus selalu bersanding pada setiap diri muslimah. Tentu, bukan berarti berdiam diri terhadap kemungkaran yang berkembang, namun turut andil dalam memberantasnya.


{ Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini} · { URI Lacak Balik }

Tinggalkan sebuah Komentar