Arsip untukMei, 2006

TEMBAKAU: BERBAHAYA DALAM BENTUK APAPUN

Sehubungan dengan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2006 yang jatuh pada
tanggal 31 Mei 2006, maka kami, penulis blog yang peduli dengan masalah ini,
bermaksud untuk memperingatkan kita semua akan bahaya merokok:

1. Memperingatkan kita semua bahwa tembakau BERBAHAYA DALAM BENTUK APAPUN. Rokok, rokok pipa, bidi, kretek, rokok beraroma cengkeh, snus, snuff, rokok tanpa asap, cerutu… semuanya berbahaya.

… continue reading this entry.

Amanah yang Hampir Selesai

Apa yang ada dipikiran seseorang bila mendengar kata “pengajar”, baik itu guru, dosen, asisten, atau yang lainnya??? … continue reading this entry.

Makan-makan…asyik!

Hari minggu kemarin saya dan teman-teman khususnya anak-anak BEM-KM dept Kominfo makan-makan di KFC ekalokasari, setelah itu sekalian cuci mata gitu, pokoknya seru deh…ya sekalian menambah keakraban di antara kita. Jadi sebenarnya acara ini di adakan oleh dept kominfo untuk merayakan ultah beberapa personil dept kominfo, tentunya yang ultah yang traktir…:) Yah, buat temen-temen kominfo semoga acara yang kita laksanakan itu bisa menambah motivasi dan semangat kita untuk kedepannya, amien… tetap semangat ya buat semuanya, jangan pernah berfikir yang kita lakukan sia-sia…biarlah Allah yang menilai semua usaha dan perbuatan kita. Katakan hitam adalah hitam, katakan putih adalah putih, tiada kata jera dalam perjuangan. Hidup Mahasiswa!!!

Kenapa Marah ??!

Ini terjadi dua hari yang lalu, tepatnya hari senin… Saya ke kampus jam 7 pagi, masih banyak bibi yang bersih-bersih di kampus. Rencananya sih mau ke lab mosi di lantai 4, mempersiapkan materi praktikum dpdp, tapi ternyata pintu lab belum dibuka, terpaksa deh menunggu mas Dedi karena dia yang bawa kuncinya, yah…mungkin saya yang kepagian atau mas Dedi yang kesiangan :) Pukul 08.00, praktikum dpdp dimulai dan berakhir pukul 09.45. Setelah selesai nge-asistenin saya langsung ke lantai satu karena ada jadwal kuliah ekonomi pariwisata pukul 10.00. Tidak lama menunggu dosenpun datang, saat dosen mulai masuk teman-teman masih pada ngobrol (saya tidak loh), entah apa yang diceritakan yang pasti tidak ada hubungannya dengan mata kuliah ini. Selang beberapa menit mengajar dosen keluar kelas setelah berkata “Saya keluar”…spontan teman-teman pada diam, tapi apa boleh buat dosen tetap keluar. Siapa yang salah hayo??! Teman-teman juga sih ya, mereka kurang bisa menghargai orang lain yang sedang berbicara di depan. Yah kesabaran orang ada batasnya kan? Setelah saya analisis memang setiap minggunya teman-teman terlalu sering berbicara saat kuliah telah dimulai, dan kemarin lusa dosennya sudah sebal sekali kali ya. Akhirnya teman-teman yang merasa ngobrol datang ke kantor dosen tersebut dan meminta maaf atas perbuatannya. Yah, kejadian ini bisa jadi pengalaman, ambil saja hikmahnya…dengan begini semoga teman-teman bisa lebih menghargai orang lain yang sedang berbicara. Lagian coba kalau kita yang lagi berbicara dan tidak didengarkan, tersinggung ga seh?! Lagi pula yang rugi juga siapa kalau tidak mendengarkan, lha wong dikasih ilmu kok ya ga mau…piye to…?!

Ikan Lele vs Gempa Bumi

Saya terinspirasi untuk menulis ini karena seorang dosen saya. Saat itu beliau mengatakan bahwa di negara lain ikan lele dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi terjadinya gempa bumi, sedangkan di Indonesia banyak sekali terdapat ikan lele tapi….. :) Nah,setelah itu saya ingat bahwa di negara Jepang ikan lele memang dapat digunakan mendeteksi terjadinya gempa. Pada zaman dahulu orang Jepang percaya dengan mitos bahwa dibawah tanah terdapat sebuah ikan lele raksasa, yang apabila ia bergerak maka akan menimbulkan guncangan (gempa bumi), bahkan ada beberapa sastra Jepang yang menyebutkan demikian, bahkan sampai saat ini masih ada yang percaya dengan mitos tersebut. Orang-orang Jepang dapat mengetahui bahwa gempa akan terjadi bila ikan lele menunjukkan perilaku yang aneh. Ikan lele cenderung untuk hidup di perairan begian bawah, tetapi bila akan terjadi gempa mereka menunjukkan perilaku yang berbeda, diantaranya mereka naik ke permukaan air, keluar dari habitat mereka, dan mereka menggelepar-gelepar. Makanya tidak aneh bila akan terjadi gempa ikan lele mudah sekali ditangkap, apabila biasanya sulit sekali untuk mendapatkannya maka akan menjadi mudah untuk menangkapnya dan hasil tangkapanpun banyak. Koq bisa gitu ya….menurut analisis ilmiah ikan lele kan hidupnya cenderung dibawah atau menempel dengan substrat, jadi dia sangat peka sekali dengan getaran-getaran ringan yang terjadi dibawah tanah, sehingga sebelum terjadi gempa ia sudah dapat merasakan lebih dahulu, makanya dia berperilaku aneh dan berusaha untuk menjauhi substratnya. Wah, jadi untung dong ya para penangkap ikan lele sebelum gempa terjadi, tapi kalau setelah itu benar-benar terjadi gempa gimana…sama saja bohong dong, tuh ikan lele mau dikemanakan?! Cepat-cepat dimasak aja kali ya, buat makan waktu ngungsi :) Eh mungkin ga ya suatu saat nanti ikan lele menjadi alat pendeteksi gempa utama???